Rabu, 05 Desember 2018

Belajar Tanpa Guru Bisa Konslet

Ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits tanpa diikuti pemahaman yang memadai bisa menjadi blunder. Ibarat listrik rumahan yang disambungkan langsung ke saluran bertegangan tinggi, seseorang yang belajar agama tanpa perantara guru, bisa konslet.

Menurut Mahbub Zaki, wasekjen PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW), dalam mempelajari agama seseorang memerlukan perantara guru. Lebih tegas lagi, guru itu haruslah memiliki pemahaman yang mumpuni dan silsilah keilmuan yang jelas rujukannya. 

"Diriwayatkan dalam hadits bahwa sanad itu sebagian dari agama. Maka, tanpa wasilah, tanpa perantara guru yang sanadnya jelas, belajar langsung dari Al-Qur’an dan Hadist itu seperti listrik di rumah kita yang disambungkan langsung ke Sutet. Listrik konslet dan rumah kita bisa terbakar," terang Mahbub Zaki yang akrab disapa Gus Boby.

Dikatakan Gus Boby, sanad dalam belajar agama itu penting. Tanpa silsilah dan rujukan keilmuan yang jelas, siapa pun bisa mengajarkan sesuka hati. Menurut mantan ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah ini, banyak orang merasa sudah cukup ilmu agamanya hanya bermodal belajar dari internet. 

"Kalau dulu orang belajar agama dari kiai, dibela-bela mondok selama bertahun-tahun di pondok pesantren, sekarang orang belajar dari internet. Sementara di internet siapa pun bisa omong. Tak perlu repot-repot mondok, bikin video ceramah agama, dijulukilah ustadz. Ustadz Youtube dan Santri Mbah Google lagi jadi fenomena baru. Islam di sosial media isinya marah-marah dan menerbar permusuhan,” terang Gus Boby.


 


Pernyataan itu disampaikan Gus Boby ketika memberikan sambutan dalam Haflah Khotmil Qur’an dan Wisuda Santri Tahfidz angkatan ke-6 Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Istiqomah Desa Penaruban, Weleri, Kendal, baru-baru ini. Sebanyak 35 santri putra dan putri yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan juga provinsi lain diwisuda dari ponpes asuhan Kiai Ali Shodiqun.  

Gus Boby yang juga wakil sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah ini mengatakan, para wali murid santri tidak perlu khawatir mendidik anaknya di pondok pesantren NU yang jelas-jelas berhaluan Ahlussunnah waljamaah. 

"Tadi sama-sama kita dengar, para santri memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon. Jadi bapak-ibu tidak perlu khawatir, di sini santri dididik untuk mencintai tanah airnya. Santri tenanan tidak akan jadi teroris,” terangnya.

Belajar di pondok pesantren, katanya, para santri tidak hanya diajari cara membaca kitab tapi juga diajari cara berperilaku. Pengasuh pesantren setiap habis shalat akan mendoakan para guru-guru dan juga para santrinya. 

“Di pesantren para santri tidak hanya ditadris, tapi juga mendapatkan tarbiyah. Insyaallah setiap bakda shalat, para santri akan didoakan. Ketika para santri tertidur, pengasuh pondok akan menyambangi para santrinya, membenarkan letak tidurnya yang mungkin kurang pas. Ini yang tidak didapatkan di sekolah-sekolah umum," pungkasnya. (Muhammad Sulhanudin/Kendi Setiawan)


Selasa, 04 Desember 2018

Maulid Agung Nabi Muhammad Bersama Gus Aldi & KH. Ahmad Subhan


Alhamdulillahi Robbil 'Alamiin, Acara Peringatan Maulid Agung Nabi Muhammad SAW telah Berjalan Dengan Lancar Dan Sukses, kali ini Panitia PHBI (IRMAS) mengundang Gus Aldi untuk Memimpin Sholawat & KH. Ahmad Subhan Sebagai Penceramah..
Terimakasih Kepada Semua Rekan Rekan Panitia, yang telah Bekerja Dengan Giat Sehingga Acara Maulid 1440 H Berjalan Dengan Lancar & Dianggap Sukses.. Lebih Semangat Dan Lebih Giat.. IRMAS JAYA
Dan Kami Juga Ucapkan Terimakasih Kepada Seluruh Crew Hadroh "HM Syafa'aturrosul" yang telah memeriahkan Acara Maulid Agung 1440 H..
.
.
Selanjutnya kami Ucapkan terimakasih Kepada Seluruh Hadirin Hadirot yang sudah Memenuhi Undangan Rosulullah SAW..
Semoga Kita Semua Mendapatkan Sya'faatnya Beliau di Akherat Kelak. Aamiin.
.
.
Berikan Kritik & Saran di Kolom Komentar
#hmsyafaaturrosul #irmas #irmassumurbandung #hmjaya #irmasjaya #gusaldi

Senin, 07 Agustus 2017

KISAH UWAIS AL-QARNI (PEMUDA ISTIMEWA DIMATA RASULULLAH)

قيس القرنين (Qois Al-Qornain)

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”


Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.    


Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.


Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”


Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.


Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).



M. Haromain,

Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri;

Berdomisili di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Utara Wonosobo

ajibarokah99.blogspot.com

Minggu, 06 Agustus 2017

Do'a Sapu Jagad

“Rabbana atina fiddunya hasanatan wafil akhirati hasanatan waqina ‘azabannar. Wa-adkhilnal jannata ma’al abrar, ya “azizu ya gaffaru ya rabbal ‘alamin”.
Artinya :
“Wahai Tuhan kami, berilah kami di dunia dan di akhirat kebaikan dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka. Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

KEKUATAN DO'A
Do'a adalah Senjata Orang Islam yang tidak akan Meleset Sasarannya, Do'a akan tepat Sasaran yang dituju, dengan Syarat Kita yakin kepada sang Khaliq. "Mintalah kepada-KU niscaya akan KUkabulkan"

Senin, 15 Mei 2017

Kisah Wafatnya Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf

KISAH WAFATNYA HABIB ABDUL QODIR BIN ABDURRAHMAN ASSEGAF (Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf - Solo)
Meninggal di hari Jum'at Ketika Menjadi imam Sholat Jum'at, pada saat Sujud Terakhir.
.
Shaf pertama penuh berdesak-desakan. Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf mengisyaratkan kepada Habib Najib bin Thoha Assegaf agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakkan itu Habib Najib bin Thoha berkata, “Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.”

Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qadir menjawab dengan penuh kewibawaan, “Wahai anakku, majulah, kau tak mengetahui maksudku!”

Jawaban itu menjadikan Habib Najib bin Thoha spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

“Allaahu akbar”.
Shalat Jum’at mulai didirikan. Habib Abdul Qadir membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat setelahnya dalam keadaan menangis. Di rakaat kedua pada sujud terakhir, beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafasnya terdengar dari speaker masjid.

Karena sujud itu sudah sangat lama, maka Habib Najib bin Thoha memberanikan diri untuk menggantikan beliau.
“Allaahu akbar”, ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan.

Para jamaah berhamburan lari ke depan ingin mengetahui apa yang terjadi pada habib Abdul Qadir.

Saat itu mereka mendapati Habib Abdul Qadir tetap dalam keadaan sujud tak bergerak. Lalu tubuh yang bersujud itu dibalik oleh para jamaah, dan terlihatlah wajah Al-Habib Abdul Qadir Asssegaf.

MasyaAllah, setiap orang yang melihat wajah beliau, menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata? Mereka melihat wajah Habib Abdul Qadir tersenyum dengan jelas sekali, tersenyum bahagia.

Habib Abdul Qadir wafat dalam keadaan menikmati amal yang paling terindah.

Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu shalat berjamaah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu shalat Jum’at. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam shalat Jum’at. Di tempat yang paling utama, yaitu masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari Jum’at.

Mari Kita Baca do'a dibawah ini :
يَا اللهُ بِهَا يَا اللهُ بِهَا يَا الله بِحُسْنِ الْخَاتِمَة
Ya Allah ... aku memohon jadikanlah akhir hidupku kelak sebaik baik akhiran (husnul Khotimah). Aamiin ...

Minggu, 26 Februari 2017

IRMAS Masjid Jami' Nurul Iman Sumurbandung

Remaja masakini Yaa Sholawatan bukan Nongkrong - nongkrong yang ngga jelas manfaatnya.
IRMAS Nurul Iman ini baru saja di Resmikan yaitu pada 03 November 2016 tepatnya Malam jum'at, dan langsung Mengadakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 28 Desember 2016
Ikatan Remaja Masjid Jami' Nurul Iman mampu mengadakan Acara Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengundang Mubaligh yaitu Habib Muhammad Rofiq Basyaiban beserta Jam'iyyah Hubbur Rosul lil Habib Abdullah Basyaiban.
Acara maulid ini bertemakan "bersama remaja kita bisa"
Motto Maulid kali ini yaitu "Kita Jalin Kebersamaan Yang Utuh untuk menyongsong sumurbandung yang Religi nan Islami" acaranya bisa dianggap Sukses karena dihadiri oleh lembaga Islam diantaranya Pengurus MWC Nahdlatul 'Ulama, Pengurus MUI, dan Pengurus - pengurus Majelis Ta'lim beserta Jam'iyyah. Aparatur pemerintah juga ikut serta dalam acara ini.
Pengisi Acaranya dari IRMAS itu sendiri Pembawa Acara : Kang Aji dan Kang Hasan, Qiro dan Saritilawah : Mbak Yuli dan Mbak Anggie, Puisi 3 Bahasa ( Arab, Inggris, Indonesia ) : Mbak Eliyah, Mbak Komala, dan Mbak Dewi.
Grup Hadroh yang mengisi Sebelum Acara dimulai Yaitu Gabungan Grup Hadroh dari Wilayah Kec. Haurgeulis diantaranya: Wanakaya, SMAN 1 Haurgeulis, MA Nurul Hikmah Haurgeulis, dan Sumurbandung selaku Tuan Rumah.
Lonjakan Jama'ah tidak diduga - duga Snack yang disediakan sebanyak 500 biji sampai Habis dan Kekurangan, Panitia sampai membeli Snack tambahan. Kisaran Jama'ah yang hadir sekitar kurang lebih 600-700 Jama'ah.
Segitu aja, engga banyak - banyak. Kalo mau Tau lebih jelasnya Hub: Hp. 0822 1480 7717

foto dokomentasi kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H / 2016 M, dibawah ini :

Sabtu, 19 September 2015

Cerpen "Rindu Sosok Seorang Ayah"

Rindu Sosok Seorang Ayah (RSSA)
Karya : Aji Barokah Alhadziq

Pagi itu, ketika waktu subuh datang, dan aku masih tertidur pulas aku mendengar suara seorang laki-laki dan dengan lantang membangunkanku ,ya... dia ayahku, dia adalah sosok laki-laki yang memiliki jiwa pemimpin yang pernah aku temukan, meskipun tampangnya galak tapi dia sangat baik pada semua orang,bahkan hampir setiap dia mau berangkat kerja kami selalu bermain dan bercanda bersama,permainan kesukaan ayah dan aku waktu itu permainan catur hampir setiaap bermain aku dikalahkan oleh ayah dan hebatnya lagi ketika ibuku sakit dialah yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga ,hebat bukan .

Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, keadaan tidak seperti dulu lagi , waktu aku kelas dua SMP keluargaku mengalami problema yang mengakibatkan keluarga kami runtuh, ayah dan ibuku berpisah . Dan akupun harus memilih ikut salah satu dari mereka ,akupun memilih untuk ikut dengan ibu , hari itu aku memulai kehidupan baru dengan ibu tanpa ada sosok seorang ayah yang sangat aku sayang .dan pada saat itu ibupun harus menjadi tulang punggung keluarga, ibu memilih untuk memulai usaha dengan membuka warung dirumah. Waktupun yerus berlalu dan kini usiaku sudang menginjak bangku SMK, dan disinilah aku mulai mencari tahu dimana keberadaan ayah sekarang.
"Bu , Aku rindu ayah, apa ibu tahu dimana ayah sekarang?" Tanyaku kepada ibu
"Mungkin di bekasi tempat nenekmu" jawab ibu
Akupun terus bertanya kepada ibu dan akhirnya ibu memberikan alamat rumah nenek kepadaku, aku lega dan aku memutuskan untuk mencari ayah kesana tapi aku tidak memiliki keberanian untuk itu."sebaiknya aku menunggu waktu yang tepat".
beberapa bulanpun berlalu ,hari itu aku memutuskan untuk mencari ayah , karena mungkin inilah waktu yang tepat dimana seiringnya aku sedang mencari tempat prakerin ,dengan membaca "bismillah" kulangkahkan kakiku menuju tempat yang aku cari dan berharap aku bisa menemukan dimana ayah tinggal .
Pagi-pagi aku berangkat dari rumah menuju bekasi ,setibanya di bekasi, terlebih dahulu aku mencari tempat prakerin lalu aku menemukannya, aku lanjutkan untuk mencari ayah, akupun bertanya dan bertanya lagi dimana alamat ini sebenarnya terletak.
Syukur Alhamdulillah aku menemukan alamatnya . Dari kejauhan nampak rumah nenek ,rasa bahagia dan cemas datang mengawaniku, setiba didepan rumahnya mata ini mulai berkaca-kaca dan aku melihat seorang nenek Tua yang sedang menonton TV , dia datang menghampiriku, tanpa percakapan panjang aku langsung memeluknya.
"Ini cucumu ,nek" ucapku sambil diiringi deraian air mata
"Akhirnya kamu datang juga ,nak" ucap nenek sambil meraba wajahku.
Tapi aku belum melihat sosok ayah.
"Nek ,ayah mana?" Tanyaku sambil mengeluarkan deraian air mata
"Ayahmu sudah meninggal satu tahun yang lalu ,nak" jawab nenek sambil menangis tersedak-sedak.
Mata ini semakin tak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir begitu deras dari perkataan yang nenek ucapkan, meskipun aku mencoba menerima dan mengerti, Tapi itu semua rasanya tidak bisa. Aku mulai menyalahkan diri sendiri "mengapa baru sekarang aku kesini ". Rasanya itu semua sudah takdir yang tidak bisa diubah, akupun mulai sabar dan tawakal menyerahkan semuanya pada yang maha kuasa.